Jumat, 06 Agustus 2010

cerbung >> Hasinuda In Love_Part 1

PART I: Love at the First Sight
Sebuah Honda jazz hitam terparkir di parkiran dan turun 4 orang anak laki-laki dari mobilnya. 2 orang yang berkulit hitam manis, 1 orang yang mirip seperti orang Korea, dan 1 lagi mirip seperti orang Jepang. Ya, siapa lagi kalau bukan Iel, Rio, Alvin, dan Cakka. Puluhan pasang mata memandang mereka seolah tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
Keempat anak itu berjalan menuju ke tengah lapangan tanpa memperdulikan puluhan pasang mata yang menatapnya. Kemudian terdengar suara-suara pelan dari anak-anak perempuan, “waw, gue lagi mimpi ya? Kok bisa ada 4 cowok ganteng di depan gue?” , “sempurna!” , “kalo gak salah mereka itu anak keluarga Hasinuda kan?”
Sedangkan dari anak laki-laki, “cih! Belagu amat sih!” , “yang kayak gitu ganteng? Gantengan juga gue!” , “oh, jadi mereka toh anak kembar 4 itu.” Semua kembali sibuk mengobrol, sementara iel menyiapkan apel MOS.
“AWW!” aduh seorang anak perempuan berkulit hitam manis yang jatuh tertabrak iel yang tadi berjalan tanpa melihat kedepan.
“aduh, sori-sori, lo gapapa kan?” tanya Iel khawatir sambil mengulurkan tangan membantu anak itu berdiri.
“gapapa,” jawab anak itu menerima uluran tangan Iel dan berdiri, lalu memandang wajah Iel. Deg! Jantungnya berdetak cepat.
“nama lo siapa?” tanya Iel.
“gue Dea, kalo lo?” jawab anak yang bernama Dea itu.
“gue Gabriel, panggil aja Iel, gue duluan ya, ada urusan,” kata iel sambil berlari ke tepi lapangan. Dea kemudian senyum-senyum sendiri, sepertinya ia menyukai kakak kelasnya yang satu ini.
“lama amat lo, udah mau mulai tuh apelnya,” kata rio.
“sori,” jawab iel.
Iel memulai apelnya dan mengucapkan penyambutan untuk murid baru. Semua dibagi ke kelas MOS(kelas X), setelah semua masuk ke kelas, Iel, Rio, Alvin, dan Cakka memasuki kelas X-1.
@X-1
Iel, Rio, Alvin, dan Cakka berdiri di depan kelas dan suasana menjadi hening. “hari ini MOS pertama, kalian perkenalkan diri dan bakat kalian masing-masing, dimulai dari kamu,” Rio menunjuk seorang anak perempuan berkulit putih.
“saya Ashilla Zahrantiara, panggil aja Shilla, bakat saya dalam bernyanyi dan fotografi,” kata anak yang ditunjuk Rio tadi, yang bernama Shilla. Iel terpesona, namun tak menunjukkannya, -gengsi-.
“saya Alyssa Saufika Umari, panggil saja Ify, bakat saya bermain piano,” kata anak yang duduk di barisan sebelah Shilla (karna duduknya sendiri-sendiri). Cakka merasa seperti pernah melihat anak ini, namun ia tidak peduli.
“saya Dea Christa Amanda, panggil saja Dea, bakat saya bermain piano, biola, dan gitar,” kata Dea sambil tersenyum pada Iel. Iel membalas senyumannya, dan membuat banyak anak perempuan menatapnya sinis.
“saya Zevana Arga Angesti, panggil saja Zeva, bakat saya bermain basket dan bermain drum, sama bass,” kata anak itu sambil tersenyum pada Alvin, namun Alvin tidak peduli dan tidak membalasnya.
Begitu seterusnya, setelah semua memperkenalkan diri, gantian Cakka yang berbicara, “hari ini kalian buat 1 surat cinta untuk salah satu kakak OSIS, perlengkapannya sudah ada di atas meja, kalau sudah selesai, kumpulkan ke kami.”
Semua mengambil perlengkapan dan segera menulis surat cinta. Surat cinta pun dikumpul, mereka diperbolehkan pulang. Surat-surat cinta tersebut dipilah di ruang osis, ternyata mereka berempat mendapat surat cinta paling banyak. Iel, Rio, Alvin, dan Cakka membawanya ke mobil dan membacanya.
Iel membaca surat cinta dari Dea:
To: Kak Iel
From: Dea
Kak,
Aku belum mengenal kakak,
Jadi aku tidak tahu mau menulis apa tentang kakak,
Tapi aku suka senyum kakak,
Begitu menenangkanku,
Kuharap senyuman kakak,
Dapat mengisi hari-hariku.
Iel tersenyum, lalu membaca surat-suratnya yang lain, melihat kembarannya sibuk juga membaca surat-surat. Setelah selesai, Iel langsung menjalankan mobil dan menuju rumah.
Keesokan harinya..
@X-1
“bakal disuruh apalagi nih kita hari ini?” tanya Shilla pada Ify dari tempat duduknya.
“ga tau deh, tapi enak sih, MOSnya ga ngerepotin gini,” kata Ify.
Iel dkk masuk ke dalam kelas, “buat kelompok musik 4 orang, bawain sebuah lagu, trus tampilin di panggung setengah jam lagi,” kata alvin singkat.
Semua sibuk cari kelompok.
“shil, sekelompok yuk,” ajak ify.
“2 orang lagi siapa?” tanya shilla. Lalu 2 orang anak mendatanginya.
“fy, shil, boleh gabung ga?” tanya salah satu anak itu.
“oh, boleh kok de, ze, kalian bisa main alat musik apa? Gue keyboard” tanya ify.
“gue drum,” jawab zeva sambil melihat kearah alvin yang sedang mengobrol dengan iel, rio dan cakka di depan pintu kelas.
“gue gitar,” jawab dea.
“gue nyanyi ya? Lagu apa?” tanya shilla.
“terserah,” jawab yang lain kompak.
“gimana kalo Takkan Pernah Ada?” tanya shilla. Mereka mengangguk.
Tiba saatnya mereka tampil. Mereka bersiap diposisinya masing-masing.
Dia memang hanya dia, ku slalu memikirkannya, tak pernah ada habisnya Benar dia, benar hanya dia
Ku slalu menginginkannya, belaian dari tangannya
Mungkin hanya dia, harta yang paling terindah
Di perjalanan hidupku, sejak derap denyut nadiku
Mungkin hanya dia, indahnya sangat berbeda
Ku haus merindukannya
Kuingin kau tahu isi hatiku
Kaulah yang terakhir dalam hidupku
Tak ada yang lain hanya kamu
Tak pernah ada, takkan pernah ada
Benar dia, benar hanya dia
Ku slalu menginginkannya, belaian dari tangannya
Mungkin hanya dia, indahnya sangat berbeda
Ku haus merindukannya
Kuingin kau tahu isi hatiku
Kaulah yang terakhir dalam hidupku
Tak ada yang lain hanya kamu
Tak pernah ada, takkan pernah ada
Kuingin kau slalu di pikiranku
Kau yang slalu larut dalam darahku
Tak ada yang lain hanya kamu
Tak pernah ada, takkan pernah ada
Iel, Rio, dan Cakka terkagum-kagum dengan penampilan barusan, namun tetap saja tidak menunjukkannya terang-terangan –gengsi-. Sementara alvin sibuk saja memainkan iPhonenya.
Setelah selesai, shilla dkk menghampiri iel dkk, “hai kak, menurut kakak tadi penampilan kita bagus gak?” tanya shilla sambil tersenyum pada rio, niatnya sih pengen kenalan sama rio.
“bagus kok bagus,” jawab iel sambil tersenyum pada shilla.
Kemudian mereka mengobrol sambil menunggu para penampil selesai. Iel mengobrol dengan Shilla, namun mata shilla selalu mengikuti rio yang asik mengobrol dengan dea, sementara deanya sendiri sibuk menatap iel. Terbersit perasaan iri pada dea dan shilla, namun mereka segera menepis perasaan itu.
Sementara di tempat duduk, zeva mengajak alvin ngobrol tapi selalu dicuekin sama alvin, sementara cakka sama ify daritadi hanya diam-diaman saja, tidak tahu mau mengobrol apa.
Semua penampil selesai dan mereka kembali ke kelas masing-masing. Mereka dibagikan selembar kertas, untuk memilih 2 ekskul yang akan diikuti.
“fy, lo ikut ekskul apa? Gue fotografi sama musik,” kata shilla.
“apa ya? Yang jelas gue pasti ikut musik, emm, jurnalistik aja kali ya,” jawab ify.
“de, lo ikut apa? Gw basket sama musik nih,” tanya zeva.
“gue musik sama fotografi,” jawab dea.
Lalu mereka mengumpulkan kertas itu dan pulang.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar